Jumat, 25 Maret 2011

asuhan keperawatan keluarga


Konsep Keluarga
Pengertian
Keluarga berasal dari bahasa Sanskerta:  kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota kelompok”. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal dalam suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.(Depkes RI. 1998).
            Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga  sesuai dengan perkembangan social masyarakat:
Spradley dan Allender (1996)
Keluarga adalah individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional  dan mengembangkan dalam interaksi social, peran dan tugas.
(  Jhonson & Leny R. 2010. Hal, 3-4)
UU NO. 10 tahun 1992
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri atau suami dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. ( Setiadi. 2008. Hal, 3 )  
Friedman ( 1998)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga.
BKKBN (1999)
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
( Sudiharto. 2007. Hal, 22-23 )
Menurut Murray & Zetner (1997), keluarga adalah suatu system social yang bersisi dua atau lebih orang yang hidup bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, atau tinggal bersama dan saling menguntungkan, mempunyai tujuan bersama, mempunyai generasi penerus, saling pengertian dan saling menyayangi. (Komang. 2010. Hal,2)
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa keluarga suatu perkumpulan dalam suatu sistem sosial yang terdiri atas  orang yang mempunyai hubungan adopsi, darah, perkawinan dalam suatu rumah tangga yang memiliki tujuan bersama.
Tipe Keluarga
Pembagian Tipe Keluarga Menurut Sussman (1974) dan Maclin (1988),:
Keluarga tradisional
Keluarga inti: keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak.
Pasangan inti: keluarga yang terdiri atas suami dan istri saja.
Keluarga dengan orang tua tunggal: satu sebagai kepala keluarga, biasanya bagian dari konsekuensi perceraian.
Lajang yang tinggal sendirian.
Keluarga besar yang mencakup tiga generasi.
Pasangan usia pertengahan atau usia lanjut pertengahan
Jaringan keluarga besar.
Keluarga non tradisional
Pasangan yang memiliki anak tanpa menikah.
Pasangan yang hidup bersam tanpa menikah (kumpul kebo).
Keluarga homosekual (gay dan/atau lesbian).
Keluarga komuni: keluarga dengan lebih dari satu pasang monogam dengan anak secara bersama-sama menggunakan fasilitas serta sumber-sumber yang ada.
Pembagian Keluarga menurut Anderson Carter.
Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, nenek, kakek, keponakan, ssepupu, paman, bibi dan sebagainya.
Keluarga duda atau janda (single family). Keluarga ini terjadi karena perceraian atau kematian.
Keluarga berkomposisi. Keluarga yang perkawinan berpoligami dan hidup secara bersama-sama.
Keluarga kabitas. Dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
Pembagian keluarga menurut konteks keilmuan dan pengelompokan orang.
Traditional nuclear. Keluarga inti (ayah, ibu, anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh saksi-saksi legal dalam satu ikatan perkawinan, satua atau keduanya bekerja diluar rumah.
Reconstituted nuclear. Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu anak dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah. 
Middle age atau aging couple. Suami sebagai pencari uang, istri dirumah, atau keduanya bekerja diluar rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah, perkawinan, atau meniti karier.
Dyadic nuclear. Pasangan suami-istri yang sudah berumur dan tidak mempuyai anak.keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah.
Single parent. Keluarga dengan satu orang tua atau sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya. Anak-anaknya dapat tinggal didalam rumah atau luar rumah.
Dual career. Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.
Commuter married. Pasangan suami-istri atau keduanya sama-sama bekerja dan tinggal terpisah pada jarak tertentu. Kedunya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
Single adult. Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk menikah.
Three generation. Tiga generasi atau lebih yang tinggal dalam satu rumah.
Institusional. Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam satu panti.
Communal. Satu rumah terdiri dari atas dua atau lebih pasanga yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam berbagai fasilitas. 
Group marriage. Satu rumah terdiri atas orang tua dan keturunannya didalam satu kesatuan keluarga.
Ummarried parent and child. Ibu dan anak yang pernikahannya tidak dikehendaki dan kemudian anaknya diadopsi.
Cohabitating couple. Dua orang atau satu pasangan yag bersama tanpa menikah.
Extended family. Nuclear family dan anggota keluarga yang lain tinggal dalam satu rumah dan berorientasi pada satu kepala keluarga.
(Efendi, Ferry Makhfudi. 2009. Hal, 182-184)
Struktur Keluarga
Menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga dimasyarakat. Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah:
Patrilineal adalah keluarga sedarah dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
 Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedabrah  dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
Keluarga Kawin Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga Karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
(Setiadi. 2008. Hal, 6-7)
Fungsi Keluarga.
Menurut Friedman (1999), lima fungsi dasar keluarga adalah:
Fungsi afektif, adalah fungsi internal keluarga unuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh dn memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung.
Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan perubahan individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar berperan dilingkungan sosial.
Fungsi reproduksi, adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan dan sumber daya manusia.
Fungsi ekonomi, adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan, dan papan.
Fungsi perawatan kesehatan, adalah kemampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Tahap-tahap Perkembangan Keluarga
Menurut Duval (1997):
Tahap 1, Pasangan baru menikah (keluarga baru), tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah membina hubungan perkawinan yang saling memuaskan, membina hubungan harmonis dengan saudara dan kerabat,dan merencanakan keluarga (termasuk merencanakan jumlah anak yang diinginkan).
Tahap 2.menanti kelahiran (child bearing family), atau anak tertua adalah bayi berusia kurang dari 1 bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menyiapkan anggota keluarga baru (bayi dalam keluarga), membagi waktu untuk individu, pasangan dan keluarga.
Tahap 3, Keluarga dengan anak prasekolah atau anak tertua 2,5 tahun sampai dengan 6 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menyatukan kebutuhan masing-masing anggota keluarga, antara lain ruang atau kamar pribadi dan keamanan, mensosialisasikan anak-anak, menyatukan keinginan anak-anak yang berbeda, dan mempertahankan hubungan yang “sehat” dalam keluarga.
Tahap 4 Keluarga dengan anak sekolah atau anak tertua berumur 7 sampai 12 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah mensosialisasikan anak-anak termasuk membantu anak-anak mencapai prestasi yang baik disekolah, membantu anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuasakan, dan memenuhi kebutuhan kesehatan masing-masing anggota keluarga.
Tahap 5, Keluarga dengan remaja atau  anak tertua berusia 13 tahun sampai 20 tahun. Tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengimbangi kebebasan remaja dengan tanggung jawab yang sejalan dengan maturasi remaja, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, dan melakukan komunikasi yang terbuka diantara orang tua dengan anak-anak remaja.
Tahap 6, Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan). Tugas perkembangan keluarga pada ini adalah menambah anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru melalui pernikahan dengan anak-anak yang telah dewasa, menata kembali hubungan perkawinan, menyiapkan datangnya proses penuaan, termmasuk timbulnya masalah-masalah kesehatan.
Tahap 7, Keluarga usia pertengahan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah mempertahankan kontak dengan anak dan cucu, memperkuat hubungan hubungan perkawinan, dan meningkatkan usaha promosi kesehatan.
Tahap 8, Keluarga usia lanjut. tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menata kembali kehidupan yang memuaskan, menyesuaikan kehidupan dengan penghasilan yang berkurang, mempertahankan hubungan perkawinan, menerima kehilangan pasangan, mempertahankan kontak dengan masyarakat, dan menemukan arti hidup. (Sudiharto. 2007. Hal 24-25)
Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktek praktek dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
Proses keperawatan keluarga disesuaikan dengan fokus keperawatan. Jika ia melihat keluarga sebagai latar belakang atau konteks dari keluarga maka keluarga merupakan fokus utama tetapi jika ia melihat didalam keluarga da individu yang rawat, maka anggota keluarga secara individu merupakan fokus utama. Proses keperawatan keluarga secara khusus mengikuti pola keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, intervensi dan implementasi serta evaluasi, hubungan antara langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga digambarkan pada bagan dibawah ini:

Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana seorang perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang dibinanya. Tahap pengkajian ini merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan keluarga (Lyer et al.,1996).
Dasar pengumpulan dari pengkajian adalah suatu perbandingan ukuran atau penilaian mengenai keadaan keluarga dengan menggunakan norma, nilai, prinsip, aturan, harapan, teori dan konsep yang berkaitan dengan permasalahan.
Cara pengumpulan data tentang keluarga dapat dilakukan antara lain dengan:
Wawancara
Yaitu menanyakan atau Tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi keluarga dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. Tujuan komunikasi/wawancara disini adalah:
Mendapatkan informasi yang diperlukan.
Meningkatkan hubungan perawat-keluarga dalam komunikasi.
Membantu keluarga untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan berkaitan dengan hal-hal yang idak perlu ditanyakan (ventilasi, penerangan,kebersihan)
Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi yang biasa dijadikan acuan oleh perawat antara lain adalah KMS, kartu keluarga dan catatan kesehatan lainnya misalnya informasi- informasi tertulis maupun lisan dari rujukan  dari berbagai lembaga yang menangani keluarga dan dari anggota tim kesehatan lainnya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan hanya pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan .
Beberapa alat yang dapat dipakai dalam mengumpulkan data antara lain adalah:
Berupa quesioner
Daftar ceklist
Inventaris dan lainnya
 Pada awal pengkajian perawat harus membina hubungan yang baik dengan keluarga:
Diawali perawat memperkenalkan diri dengan spontan dan ramah.
Menjelaskan tujuan kunjungan.
Meyakinkan keluarga bahwa kehadiran perawat adalh untuk membantu keluarga menyelesaikan masalah kesehatan yang ada dikeluarga.
Menjelaskan luas kesanggupan bantuan perawat yang dapat dilakuakan.
Menjelaskan kepada keluarga siapa tim kesehatan lain yang menjadi jaringan perawat.
Diagnosa Keperawatan Keluarga
Diagnosa keperawatan adalah keputusan tentang respon keluarga tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuahan keperawatan keluarga sesuai dengan kewenangan perawat.
Tahap dalam Diagnosa keperawatan Keluarga antara lain:
Analisa Data
Setelah data terkumpul (dalam format pengkajian) maka selanjutnya dilakukan analisa data yaitu mengaitkan data dan menghubungkan dengan konsep teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan maslah kesehatan keperawatan keluarga. Cara analisa data:
Validasi data, yaitu meneliti kembali data yang terkumpul dalam format pengkajian.
Megelompokan data berdasarkan kebutuhan biopsiko-sosial dan spiritual.
Membandingkan dengan standar.
Membuat kesimpulan tentang kesenjangan yang diketemukan.
Ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan kesehatan keluarga untuk menganalisa data, yaitu:
Keadaan kesehatan yang normal bagi setiap anggota keluarga yang meliputi:
Keadaan fisik, mental, dan social anggota keluarga.
Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarag.
Keadaan gizi anggota keluarga.
Status imunisasi anggota keluarga.
Kehamilan dan KB
Keadaaan rumah dan sanitasi lingkungan, yang meliputi:
Rumah yang meliputi ventilasi, penerangan, kebersihan, kostruksi, luas rumah dan sebagainya.
Sumber air minum.
Tempat pembuangan air limbah.
Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.
Karakteristik keluarga, yang meliputi:
Sifat-sifat keluarga.
Dinamika dalam keluarga.
Komunikasi dalam keluarga.
Interaksi antar anggota keluarga.
Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan  anggota keluarga.
Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.
Dalam proses analisa, data dikelompokan menjadi 2 yaitu data subjektif (data yang didapat langsung dari pasien) dan objektif
Perumusan Masalah
Perumusan masalah keperawatan keluarga dapat diarahkan kepada sasaran individu dan atau keluarga. Komponen diagnosis keperawatan meliputi:
Masalah (problem)
Adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan masalah (tidak terpenuhinya kebutuhan dasar keluarga atau anggota keluarga) yang diidentifikasi oleh perawat melalui pengkajian. Tujuan penulisan pernyataan masalah adalah menjelaskan status kesehatan atau masalah kesehatan secara jelas dan sesingkat mungkin.
            Daftar Diagnosa Keperawatan Keluarga berdasarkan NANDA 1995 adalah sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Lingkungan
Kerusakan penatalaksanaan pemliharaan rumah (Higienis lingkungan).
Resiko terhadap cidera.
Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit).
Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Komunikasi.
Komunikasi Keluarga Disfungsional.
Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Struktur Peran
Berduka dan Diantisipasi.
Berduka Disfungsional.
Isolasi Sosial.
Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang sakit terhadap keluarga).
Potensial peningkatan menjadi orang tua.
Perrubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua).
Perubahan penampilan peran.
Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan lingkungan.
Gangguan citra tubuh.
Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Afektif.
Perubahan proses keluarga.
Perubahan menjadi orang tua.
Potensial peningkatan menjadi orang tua.
Berduka yang diantisipasi.
Koping keluarga tidak efektif,menurun.
Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan.
Resiko terhadap tindakan kekerasan.
Diagnosa Keperawatan Keluarga pada masalah Fungsi Sosial.
Perubahan proses keluarga.
Perilaku mencari bantuan kesehatan.
Konflik peran orang tua.
Perubahan menjadi orang tua.
Potensial peningkatan menjadi orang tua.
Perubahan pertumbuhn dan perkembangan.
Perubahan pemeliharaan kesehatan.
Kurang pengetahuan,
Isolasi sosial.
Kerusakan interaksi social.
Resiko terhadap tindakan kekerasan.
Ketidakpatuhan.
Gangguan identitas pribadi.
Diagnosa Keperawatan Keluarga  pada masalah Fungsi Perawatan Kesehatan.
Perubahan pemeliharaan kesehatan.
Potensial pemeliharaan kesehatan.
Perilaku mencari pertolongan kesehatan.
Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik keluarga.
Resiko teerjadi penularan penyakit.
Diagnosa Keperawatan Keluarga  pada masalah Koping
Potensial peningkatan koping keluarga.
Koping keluarga tidak efektif,menurun.
Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan.
Resiko terhadap tindaka keperawatan.
Penyebab (etiologi)
Faktor yang berhubungan yang dapat dikelompokan dalam respon fisiologis yang dipengaruhi oleh unsur psikososial, spiritual dan factor-faktor lingkungan yang dipercaya berhubungan dengan masalah baik sebagai penyebab ataupun factor resiko. Dikeperawatan keluarga etiologi ini mengacu pada 5 tugas keluarga, yaitu:
Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
Mengambil keputusan untuk mlakukan tindakan keperawatan.
Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda.
Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan (pemanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada). 
Tanda (sign)
Tanda dan gejala adalah sekumpulan data subyektif dan objekif  yang diperoleh perawat dari keluarga yang mendukung masalah dan penyebab. Perawat hanya boleh mendokumentasikan tanda dan gejala yang paling signifikan untuk menghindari diagnosis keperawatan yang panjang. Tada dan gejaladihubungkan dengan kata-kata “yang dimanifestasikan dengan”.
                        Perumusan diagnosa keperawatan keluarga sama dengan diagnosa klinik yang dapat dibedakan menjadi lima kategori yaitu:
Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai data yang ditemukan yaitu dengan ciri-ciri dari pengkajian didapatkn tanda dan gejala dari gangguan kesehatan. Diagnose keperawatan aktual memiliki tiga komponen diantaranya adalah:
Problem, yang mengacu pada permasalahan yang dihadapi klien.
Etiologi (faktor yang berhubungan), merupakan etiologi atau faktor penyebab yang dapat mempengaruhi perunahan status kesehatan. Faktor ini mengacu pada lima tugas keluarga.
Symptom (batasan karakteristik), yang menentukan karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subyektif, dan obyektif.
Jadi syarat diagnosa aktual adalah harus ada PES (problem+etiologi+symptom).
Resiko (ancaman kesehatan)
Diagnosa keperawatan resiko memiliki dua komponen diantaranya adalah problem dan etiologi. Ciri diagnosa resiko adalah sudah ada data yang menunjang namun  belum terjadi gangguan. Misalnya: pola makan yang tidak adekuat, lingkungan rumah yang kurang bersih dan lainnyamengacu pada ancaman kesehatan.
Wellness (keadaan sejahtera)
Adalah keputusan klinik tentang keadaan keluarga dalam transisi dari tingkat kesejahteraan tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi sehingga kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Cara pembuatan diagnosa ini menggabungkan pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang disahkan, jadi dalam keperawatan menunjukan terjadi penigkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi positif.
Ada 2 kata kunci yang harus ada dalam diagnosa ini, yaitu:
Sesuatu yang menyenangkan pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
Adanya status dan fungsi yang efektif.
Yang jelas bagan ini memperlihatkan peningkatan kesehatan dari meningggal sampai dengan sehat.
Sindrom
Adalah diagnosa yang terdiri dari sekelompok diagnosa actual da resiko tinggi yang dipekirakan akan muncul karena suatu kejadian/situasi tertentu. Menurut Nanda ada du diagnosa keperawatan sindrom, yaitu:
Syndrom trauma pemerkosaan (rape trauma Syndrome)
Pada kelompok ini menunjukan adanya tanda dan gejala, misalnya: cemas, takut, sedih, gangguan istirahat dan tidur dll.
Resiko sindrom penyalahgunaan (risk for disuse Syndrom)
Misalnya: resiko gangguan proses pikir, resik gangguan gambaran diri dll.
Prioritas Masalah
Tahap berikutnya setelah ditetakan rumusan masalahnya adalah memprioritaskan masalah sesuai dengan keadaan keluarga karena dalam suatu keluraga perawat dapat menemukan lebih dari satu diagnosa keperawatan.
Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan skala prioritas (skala Baylon dan Maglaya) sebagai berikut:
Tentukan skor untuk tiap criteria
Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot:
                                 Bobot
Skor
                         Angka tertinggi
Jumlah skor untuk semua kriteria
Skor tertinggi adalah 5, dan sama seluruh bobot
No
Kriteria
Nilai
Bobot
1
Sifat masalah
Tidak/kurang sehat
Ancaman kesehatan
Keadaan sejahtera

3
2
1


1
2
Kemungkinan masalah dapat diubah
Mudah
Sebagian
Tidak dapat

2
1
0


2
3
Potensi masalah untuk dicegah
Tinggi
Cukup
Rendah

3
2
1


1
4
Menonjolnya masalah
Masalah benar-benar harus segera di tangani
Ada masalah tetapi tidak perlu segera di tangani
Masalah tidak dirasakan

2

1

0



1


Penentuan prioritas sesuai dengan criteria skala:
Kriteria I 
Perencanaan Keperawatan Keluarga
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi penentuan tujuan, perawatan (jangka panjang/pendek), penetapan standard dan kriteria serta menentukan perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga.
Penetapan Tujuan. 
Tujuan Jangka panjang.
Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri.dan lebih baik ada batas waktunya, misalnya dalam waktu dua hari. Pencatuman   jangka waktu ini adalah untuk mengarahkan evaluasi pencapaian pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
Tujuan jangka pendek
Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan  dengan keadaan yang mengancam kehidupan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan tujuan keperawatan adalah:
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai.
Harus objektif atau merupakan tujuan operasional langsung dari kedua belah pihak (keluarga dan perawat).
Mencakup kriteria keberhasilan sebagai dasar evaluasi.
Penetapan Kriteria dan Standar
Merupakan standar evaluasi yang merupakan gambaran tentang faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai dan digunakan dalam membuat pertimbangan, bentuk dan standar kriteria ini adalah pernyataan verbal (pengetahun), sikap dan psikomotor. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat standar:
Berfokus pada keluarga, outcomes harus ditujukan kepada keadaan keluarga, “apa yang harus dilakukan keluarga, kapan, dan sejauh mana tindakan akan dilaksanakan.
Singkat dan jelas, untuk memudahkan perawat dalam mengidentifikasi tujuan dan rencana tindakan. Perawat juga harus menghindari kata-kata yang terlalu panjangdan bermakna ganda.
Dapat diobservasi dan diukur, tanpa hasil yang dapat diukur proses keperawatan tidak dapat diselesaikan. Perawat harus menghindari penggunaan istilah memahami dan mengerti, karena istilah tersebut sulit diukur.
Realistic, ini harus disesuaikan  dengan sarana dan prasarana yang tersedia dirumah.
Ditentukan oleh perawat dan keluarga, mulai pengkajian perawat seharusnya melibatkan keluarga dalam intervensi.
Pembuata rencana keperawatan.
  Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan lagsug kepada keluarga yang dilaksanakan oleh perawat, yang ditujukan kepada kegiatan yang berhubungan dengan promosi, mempertahankan kesehatan keluarga.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rencana tindakan adalah:
Sebelum menulis cek sumber informasi data,
Buat rencana keperawatan yang mudah dimengerti.
Tulisan harus jelas, spesifik, dapat diukur dan kriteria hasil sesuai dengan identifiksi masalah.
Memulai instruksi keperawatan harus menggunakan kata kerja.
Guakan pena tinta dalam menulis untuk mencegah penghapusan tulisan atau tidak jelasnya tulisan.
Menggunakan kata kerja, rencana kegiatan harus jelas menjabarkan setiap kegiatan sehingga perlu menggunakan kata keja yang mudah, mislanya “ajarkan cara perawatan luka”.
Menetapkan teknik dan prosedur keperawatan yang akan digunakan.
Melibatkan keluarga dalam menyusun rencana tindakan.
Mempertimbangkan latar belakang budaya dan agama, lingkungan, sumber daya dan fasilitas yang tersedia.
Rencana tindakan disesuaikan dengan seberapa daya dan dana yang dimiliki oleh keluarga dan mengarah kemandirian sehingga tingkat ketergantungan dapat diminimalisasikan.
Fokus dari intervensi keperawatan keluarga antara lain meliputi kegiatan yang bertujuan:
Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara:
Member informasi yang tepat.
Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang kesehatan.
Mendorong sikap emosi yang I kelusehat yang mendukung upaya kesehatan masalah.
Mestimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawaan keluarga yang tepat dengan cara:
Menidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan.
Mengidentifikasi sumber-sumber yang tidak dimiliki keluarga.
Mendiskusikan konsekuensi tiap tindakan.
Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota yang sakit dengan cara:
Mendemonstrasikan cara perawatan.
Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah.
Mengawasi keluarga melakukan perawatan.
Membantu keluarga untuk menemukan cara untuk menemukan cara bagaimana membat lingkungan menjadi sehat, dengan cara:
Menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga.
Melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.
Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, dengan cara:
Mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga.
Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.
Tindakan Keperawatan Keluarga.
Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun  pada tahap perencanaan.  Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan keluarga, yaitu:
Tahap 1: Persiapan
Persiapan ini meliputi kegiatan-kegiatan:
Kontrak dengan keluarga (kapan dilaksanakan, berapa lama waktunya, materi yang akan didiskusikan, siapa yang melaksanakan, anggota keluarga yang perlu mendapatkan  informasi).
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
Mempersiapkan lingkungan yang kondusif.
Menidentifikasi aspek-aspek hokum dan etik.
Tujuan dari kegiatan ini adalah agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan fisik dan psikis saat implementasi.
Tahap 2: Intervensi
Tindakan keperawatan keluarga berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara professional adalah:
Independent.
Adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat sesuai dengan kompetensi keperawatan tanpa petunjuk dan perintah dari tenaga kesehatan lainnya. Lingkup tindakan independen ini adalah:
Mengkaji terhadap klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan klien.
Merumuskan diagnosa keperawatan.
Mengidentifikasi tindakan keperawatan.
Melaksanakan rencana pengukuran.
Merujuk kepada tenaga kesehatan lain.
Mengevaluasi respon klien.
Partispasi dengan konsumer atau tenaga kesehatan lainnya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Tipe tindakan independent keperawatan dapat dikategorikan menjadi 4, yaitu:
Tindakan diagnostik.
Wawancara dengan klien.
Observasi dan pemeriksaan fisik.
Melakukan pemeriksaan laboratoriu sederhana.
Tindakan terapeutik.
Tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah klien.
Tindakan edukatif.
Tindakan untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien.
Tindakan merujuk. 
Tindakan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya.
Interdependent.
Yaitu suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya tenaga social, ahli gizi, fisioterapi, dan dokter.
Dependent.
Yaitu pelaksanaan rencana tindakan medis.
Tahap 3: Dokumentasi.
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
Evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenga kesehtan lainnya. Tujuan Evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan. Jenis evaluasi dapat dibagi menjadi dua:
Evaluasi berjalan (Sumatif).
Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk  pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai adalah format SOAP.
Evaluasi akhir (Formatif).  
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai, bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinju kembali, agar didapat data-data, masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.


Kepustakaan:
Efendi, Ferry Makhfudi. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Jhonson L & Leny R. 2010. Keperawatan Keluarga: Plus Contoh Askep Keluarga. Cetakan 1. Yogyakarta: Nuha Medika.
Komang. 2010. Aplikasi Praktik Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Edisi Pertama. Yogyakarta:     Graha Ilmu.
Sudiharto. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan Transtruktural. Jakarta: EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar